Download Video Pad, Software Edit Video


VideoPad merupakan salah satu software editor video yang paling banyak digunakan. Hal ini karena VideoPad mensupport banyak extensi video sehingga memungkinkan Anda mengedit berbagai jenis video dengan hanya satu software saja.

Beberapa jenis video yang support antara lain: AVI, WMV, ASF, MPG, MPEG, MPE, VOB, MOV, 3GP, MP4, M4V, FLV, MKV. Cara penggunaan VideoPad sangatlah mudah, dan cocok bagi pemula yang baru mengenal dunia editing video. Berikut adalah spesifikasi dari software.
Size: 5.4 MB
Developer: NCH Software
OS: Windows 7
Lisence: Free
File location: Softonic
Link Download : Video Pad Terbaru
 Sekian postingan kali ini dan semoga memberikan manfaat bagi pembaca.

Referensi software - software terbaru dan terupdate lainnya :

Download HJ Split, Software Penggabung File Terbaru


HJ-Split adalah software untuk menggabung file video atau film yang biasanya dipecah menjadi beberapa part atau bagian agar proses download ataupun uploadnya lebih mudah. Software gratis ini juga bisa membantu kita memecah (split) video dengan ukuran yang besar ke beberapa bagian sehingga mempermudah kita untuk mengupload atau mengirim kepada orang lain.

Penggunaannya cukup mudah, kita hanya perlu menginput atau mencari file yang akan dijoin (gabung) atau di split kemudian klik Start. Berikut adalah detail software HJ Split.
Versi: 3.0
Size : 200 kb
OS : all Windows & Linux
Created : Freebyte.com
Link Download : HJ Split Terbaru
Sekian postingan kali ini dan semoga memberikan manfaat bagi pembaca.

Referensi software - software terbaru dan terupdate lainnya :

Download aTube Catcher, Software Perekam Layar Komputer


aTube Catcher adalah software yang berfungsi untuk merekam kegiatan di layar komputer atau laptop Anda ke dalam sebuah video. Software gratis ini tidak hanya berfungsi sebagai perekam layar komputer saja, namun seperti namanya, software ini juga dapat berfungsi sebagai downloader video dari Youtube dan mengkonversinya menjadi MP3 serta dapat mengkonvert file video menjadi ukuran tertentu.

Penggunaannya pun cukup mudah, setelah terinstal, jalankan software tersebut dan pilih tab atau menu Screen Capture lalu klik tombol Start untuk memulai merekam. Berikut adalah detail dari software ini.
Versi: 3.8
Size : 16.5 MB
OS : all Windows & Linux
Created : DsNet Corp.
Link Download : aTube Catcher terbaru
Sekian postingan kali ini dan semoga memberikan manfaat bagi pembaca.

Referensi software - software terbaru dan terupdate lainnya :

Generasi Berkemajuan (Refleksi Milad IPM ke-55)


Oleh : Azaki Khoiruddin (Sekjen PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah)

Pada tanggal 18 Juli 2016 hari ini, Ikatan Pelajar Muhammadyah (IPM) genap berusia 55 tahun Miladiyah. Usia yang sudah cukup dewasa dan matang untuk ukuran sebuah organisasi kepemudaan di leval pelajar. Milad kali ini mengangkat tema “Menggerakkan Daya Kreatif, Mendorong Generasi Berkemajuan” Sebuah tema yang sangat relevan dengan kondisi generasi muda bangsa. Sejak kelahirannya tahun 1961 silam, IPM terus berbenah, mulai dari merangkak, berdiri, berjalan, hingga mampu berlari melakukan transformasi gerakan. IPM begeliat dan bergulat dengan realitas. Sudah menjadi takdir sejarah bahwa IPM merupakan organisasi sayap gerakan Muhammadiyah di kalangan pelajar.

Ketika berbicara IPM secara ideologis, tentu tidak bisa melepaskan diri dari induknya yaitu Muhammadiyah. Sebagai gerakan pelajar Muhammadiyah, paham ke-Islaman IPM pun harus merujuk kepada pemahaman Islam ala Muhammadiyah, yakni “Islam Berkemajuan”. Refleksi Gerakan Sebagai organisasi yang mempunyai basis massa pelajar, IPM harus memahami siapa pelajar itu, apa, bagaimana, serta mengapa berbagai macam persoalan muncul di tengah-tengah dunia pelajar. Aneh dan lucu, bila mengklaim dirinya aktivis IPM namun tidak mampu memahami secara mendalam (radical) seluk-beluk “pelajar” baik secara filosofis, sosiologis, psikologis, bahkan politis Sebagai gerakan yang menjadikan “pena” sebagai simbol gerakan. QS Al-Qalam ayat 1 sebagai landasan perjuangan. Maka kader-kader IPM tidak boleh malas dalam “mendialektikakan” antara pemikiran dan praktek gerakan.

Jika demikian, maka sebuah IPM lambat laun, pelan namun pasti akan mengalami stagnasi, kejumudan, pendangkalan, birokratis, dan tidak peka terhadap realitas yang sedang mengalami perubahan. Aktivitas IPM akhirnya hanya menjadi rutinitas balaka tanpa ada relevansi terhadap realitas. Sebaliknya jika IPM mampu mampu melakukan praktek refleksi-aksi atau aksi-refleksi secara simultan dan seimbang, maka IPM akan terus bergerak melakukan inovasi kreatif untuk menjawab persoalan pelajar. Tentu, apa yang dipersoalkan oleh gerakan pelajar satu dengan yang lainnya akan berbeda. Karena hal tersebut dipengaruhi oleh perbedaan gerakan. Paradigma inilah yang menentukan persepsi atau cara pandang seorang aktivis dalam melihat problem. Benar-salah, baik-buruk, masalah atau solusi, semua tergantung dengan paradigma yang digunakan.

Yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa keberlanjutan gerakan IPM tentu dipengaruhi oleh ide, gagasan, pemikiran serta paradigma yang terus bergulir dalam tubuhnya. Dalam sejarah telah terjadi transformasi paradigma gerakan sebagai respons terhadap realitas yang selalu berubah. Era Orde Baru I IPM memiliki paradigma Tri Tertib (tertib Ibadah, tertib belajar, dan tertib berorganisasi), era Orde Baru II IPM memiliki paradigma GATK (Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan), era Reformasi IPM mendeklarasikan Manifesto GKT (Gerakan Kritis-Transformatif), dan pasca Reformasi IPM dikenal sebagai “Gerakan Pelajar Berkemajuan”. Gerakan Berkemajuan Muktamar ke-19 2014, IPM telah menegaskan paradigma gerakannya sebagai gerakan ilmu, yang dibingkai dalam “Gerakan Berkemajuan”. Tantangan-tantangan yang dihadapi IPM tentu selalu dinamis dan unik. Siapapun yang ber-IPM harus mampu “menemukan kenunikannya”. Selanjutnya IPM harus mampu menggerakkan daya dan kekuatannya melalui banyak strategi kreatif.

Dengan meminjam konsep Fauzan A Sandiah (2016), pengiat Rumah Baca Komunitas di Yogyakarta Era IPM yang baru bersandar pada dua kata kunci penting sebagai cara merawat daya-kreatifnya, yaitu berbagi (sharing) dan kolaborasi. Inilah dua hal yang harus dimiliki generasi berkemajuan hari ini. Generasi Berkemajuan ditandai oleh keberhasilannya menemukan ruang diri (keunikan) yang selalu relevan dengan semangat zaman. Generasi berkemajuan mampu “mendorong pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran” (amar ma’ruf nahyi munkar). Etos kolaborasi dan etos berbagi menjadi kekuatan atau daya gerak untuk memperkuat proses transformasi sosial budaya, ekonomi, dan politik.

Menurut hemat saya, paling tidak ada lima syarat untuk menjadi generasi berkemajuan sebagai mana semangat QS Al-Ashr. Pertama, bepikir melampuai zaman (futuristik, ashr). Kedua, tauhid murni, sebagai dasar aktivisme. Bahwa segala kegiatan sebagai bentuk pengabdian terhadap Allah Swt. Ketiga, pelembagaan ide kreatif menjadi kerja-kerja peradaban (amal shaleh). Keempat, bersikap kolaboratif dan berbagai dengan berbagai pihak sebagai kehendak murni mendorong kemajuan kehidupan (tawasau bil haq). Kelima, toleran, rendah hati, menebar cinta, dan kasih perdamaian dengan semua makluk (tawasau bis shabr). Demikianlah sekelumit apa yang dapat saya tuangkan dalam tulisan ini dalam rangka menyambut milad IPM ke-55. Semoga IPM selalu jaya, maju, berprestasi dan menginspirasi. Nuun Walqalami Wamaa Yasthuruun.

Spirit Ekoliterasi PP IPM 2016


Menulis adalah bagian dari pekerjaan menyelamatkan peradaban. Beberapa waktu belakangan ini nyaris semua kegetiran manusia di muka bumi adalah soal kondisi bumi yang berubah drastis. Perebutan sumber air bersih, lumpur lapindo yang tak kunjung selesai, pembangunan hotel yang tak sesuai amdal, pembakaran hutan, eksploitasi hutan sawit, dan tentu saja banyak contoh lain dapat dikemukakan untuk menjelaskan gentingnya kondisi bumi hari ini. tak ada yang dapat memastikan kapan reduksi material alam ini akan berhenti. Giddens, seorang ahli sosiologi menggambarkan kondisi dunia hari ini seperti truk besar (juggernaut) yang meluncur bebas dari satu titik terjal bukit menuju landai. Menurut Giddens, kondisi dunia hari ini diliputi oleh ketakpastian yang justru disebabkan oleh teknologi.

Alam dalam hal ini, menjadi korban yang paling menyedihkan. Nyaris semua orang berpikir soal “pindah dari bumi” tanpa pernah berpikir dan bertindak untuk menjaga bumi sebagai warisan bagi generasi di masa mendatang. Dalam rangka memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga bumi, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah bermaksud menyelenggarakan sayembara kepenulisan.

Peran-peran kolektif dan individu dalam menyelamatkan bumi harus didukung oleh banyak pihak, termasuk di dalamnya membangun kesadaran ekoliterasi melalui aktivitas menulis. Melek ekologi (ecoliteracy) adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Fritjof Capra seorang filosof, untuk menggambarkan tingkat kesadaran manusia yang paling tinggi, yakni menghargai lingkungan hidup (ekosistem). Menurut Capra, masa depan manusia bergantung pada kesadaran ekoliterasi. Upaya menuju melek ekologi harus diperkuat melalui kampanye dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga alam. Melalui sayembara kepenulisan dengan tema “Spirit Ekoliterasi untuk Islam Berkemajuan” diharapkan pembentukan kesadaran bahwa manusia merupakan khalifah fil al-ardh menjadi lokus dari gerakan Islam Berkemajuan Muhammadiyah bagi lingkungan. IPM, sebagai organisasi otonom Muhammadiyah memiliki peran untuk menjaga konsep khalifah fil al-ardh sebagai bentuk manusia al-ma’un dan al-'ashr.

 Adapun proses penilaian sayembara mempertimbangkan beberapa hal berikut: Pertama, konten tulisan. Karya tulis ekoliterasi yang diharapkan dari setiap peserta melibatkan informasi objektif, refleksi subjektif, dan perspektif kritis-transformatif. Konten tulisan yang mampu menunjukkan tiga hal ini akan menjadi sebuah karya yang baik. Secara umum, juri menemukan narasi-narasi besar mengapa alam menjadi rusak dan mengapa menjadi sangat penting keterlibatan kelompok muda untuk merespon kerusakan alam. Beberapa alasan menurut para penulis, ialah narasi soal (1) global warming, (2) hak dan kewajiban manusia sebagai penghuni bumi, (3) dampak industri, (4) human non educated, (5) ideologi pembangunan yang eksploitatif. Variatifnya narasi-narasi yang dikemukakan oleh penulis menunjukkan generasi muda saat ini cukup jeli melihat persoalan.

Era keterbukaan informasi menjadi alasan beragamnya perspektif yang digunakan. Hal ini mempengaruhi konten yang mengangkat beberapa topik berikut: (1) menggagas gerakan peduli lingkungan, (2) mendorong keterlibatan lembaga pendidikan dalam konservasi ekologi, (3) mengkritisi eksploitasi lingkungan industri, (4) informasi mengenai perkembangan gagasan peduli lingkungan di setiap sekolah, (5) solusi atas kerusakan lingkungan.

Kedua, penyajian narasi. Karya tulis yang dikirim pada umumnya terdiri atas teknik penulisan dan gaya penyajian narasi yang beragam. Hal ini tentu saja merupakan suatu kelebihan khusus yang dimiliki oleh setiap peserta lomba kepenulisan ekoliterasi. Para juri memahami bahwa menulis data yang komprehensif tidak akan menjamin penyajian narasi yang menggugah. Pada masa sekarang, informasi mengenai kerusakan lingkungan sebenarnya sangat lazim. Terutama narasi soal global warming yang sangat popular diterima publik sebagai konsepsi perubahan lingkungan. Juga soal peran masyarakat sipil secara individual yang mempercepat proses kerusakan. Narasi umum semacam ini tentu saja harus dikemas dan disajikan secara baru dan kritis. Penyajian narasi yang kita butuhkan saat ini adalah narasi yang mampu melampaui keterangan-keterangan semacam itu. Beberapa penulis mencoba teknik penulisan reflektif subjektif. Teknik demikian sangat bagus untuk mengungkapkan kondisi kerusakan lingkungan secara baru dan menarik.

Ketiga, kepesertaan. Lomba sayembara kepenulisan ekoliterasi melibatkan banyak peserta. Mereka pada umumnya memang tidak diseleksi berdasarkan jenjang pendidikan. Hasilnya, para peserta menunjukkan karya tulis yang informatif dan menarik. Semua tulisan yang masuk ke juri termasuk karya tulis yang layak. Memang terdapat beberapa kesalahan teknis penulisan, tetapi hal itu tidak menjadi soal karena pertimbangan konten begitu kuat. Kepesertaan dari jenjang pendidikan menengah pertama juga menunjukkan kemampuan menulis yang bagus.

Tendangan Spektakuler RC6 dari Kacamata Fisika


Tendangan bebas bek kiri Brasil Roberto Carlos ke gawang Prancis pada 1997 silam merupakan salah satu gol paling spektakuler sepanjang sejarah sepakbola dunia. Tendangan bebas Carlos yang diambil jauh dari luar kotak penalti melengkung sangat tajam dan membuat penjaga gawang Fabian Barthez terdiam dan hanya bengong ketika melihat bola melintas memasuki gawang.

Gol indah Carlos di ajang Tournoi de France ini acapkali dinilai sebagai sebuah kebetulan fantastis semata. Namun sekarang sebuah studi yang dirilis dalam jurnal fisika terbaru mengklaim bahwa gol ini sesuai dengan hukum alamiah yang berlaku.

Sebuah tim ilmuwan dari Prancis meneliti lintasan bola hasil tendangan RC6, panggilan populernya karena identik mengenakan nomor punggung 6, dan membangun sebuah persamaan matematis untuk menjelaskannya. Menurut mereka, lintasan bola seperti ini bisa terjadi jika pemain menendang bola sekeras mungkin, dengan diberi efek berputar secukupnya dan jarak bola dengan gawang yang cukup jauh.

"Kami paham bahwa lintasan dari suatu bidang (bola) ketika berputar adalah sebuah spiral," ujar Cristophe Clanet dari Ecole Polytechnique Paris, yang memimpin studi ini. Dr Clanet menyebut pola tendangan Carlos ini sebagai sebuah 'lintasan berbentuk tempurung siput', dimana lengkungannya semakin tajam seiring dengan bertambahnya jarak tempuh bola. Karena jarak yang cukup jauh antara bola dan gawang (35 meter) maka lintasan spiral ini semakin terlihat jelas. Jadi lengkungan tajam yang dihasilkan tendangan Carlos ini nyatanya memang mengkuti hukum fisika.

"Di lapangan sepakbola kita dapat melihat sesuatu yang mendekati lintasan spiral ideal ini, namun gravitasi akan mempengaruhinya. Namun jika Anda menendang bola sekeras mungkin, seperti yang dilakukan Carlos maka Anda dapat mengurangi efek gravitasi ini. Semakin jauh jaraknya, lintasan melengkung semakin tajam dan jelas terlihat," jelasnya lagi.

Rintisan Kolaborasi Global LIPI dengan CERN: When Big Science pushes Big Engineering Science


LIPI pada tahun 2013 memulai kolaborasi dengan ALICE (A Large Ion Collider Experiment) yang merupakan salah satu percobaan di CERN. Sebagai kelanjutan kolaborasi itu, pada tanggal 18 Agustus sampai dengan 12 Oktober 2014, 7 peneliti Pusat Penelitian Informatika LIPI yaitu Didi Rosiyadi, Edi Kurniawan, Esa Prakasa, Nova Hadi Lestriandoko, Rifki Sadikin, Suharyo dan Taufiq Wirahman diundang untuk memulai keterlibatan langsung pada proyek riset di CERN.

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa sebagai rintisan LIPI malah mengirim 6 peneliti informatika bukan fisika? Hal ini bukanlah keputusan gegabah dan serta merta, CERN dengan motonya "accelerating science" telah berkontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak saja dalam bidang fisika seperti penemuan partikel Higgs Boson (populer disebut Partikel Tuhan) pada tahun 2012, CERN dikenal juga sebagai tempat lahirnya inovasi teknologi di bidang yang bukan fisika seperti di bidang informatika, yaitu ketika Tim Barness Lee (yang dikenal sebagai bapak internet) merumuskan dan menerapkan Hypertext Mark-up Language (HTML) yang menjadi bahasa standar perambah web di CERN sebagai alat untuk bertukar informasi. Bahkan, mode interaksi manusia dan mesin dengan menggunakan layar sentuh (touch screen) sudah mulai dikembangkan dan digunakan di CERN berapa puluh tahun yang lampau. Layar sentuh disediakan untuk mempermudah operator mengendalikan rumitnya pengoperasian akselerator di CERN. Suatu bentuk kemudahan yang umum kita rasakan pada masa sekarang, terutama saat menggunakan smartphone dan komputer tablet. Dengan fakta ini, permasalahan penelitian di CERN untuk bidang ilmu dan teknik komputer merupakan permasalahan penelitian yang berada di garda depan.

Sebelum diceritakan bentuk keterlibatan peneliti-peneliti LIPI, terlebih dahulu dijelaskan apa dan bagaimana percobaan ALICE di CERN. ALICE (A Large Ion Collider Experiment) merupakan satu dari empat percobaan di CERN yang menggunakan LHC (Large Hadron Collider). Cara kerja LHC adalah sebagai berikut: satu kelompok inti atom timbal atau proton dipacu secara terus menerus di LHC yang berbentuk seperti lingkaran sehingga memiliki kecepatan mendekati kecepatan cahaya yaitu sekitar 0.99999 kali kecepatan cahaya (3 x 108 meter/detik). Kelompok inti atom atau proton lainnya juga dipacu dengan kecepatan yang sama namun dengan arah berlawanan. Setelah itu, 2 kelompok itu ditabrakan yang menghasilkan energi sangat tinggi. Kondisi setelah tabrakan, dapat dikatakan dikatakan mirip dengan kondisi tepat sesaat (10-43 detik) setelah Big Bang. Sebagaimana diyakini hingga kini oleh para ilmuwan, Big Bang adalah ledakan dahsyat yang menjadi titik awal terbentuknya alam semesta.

Permasalahan penelitian yang ingin dijawab oleh ALICE adalah permasalahan pada bidang fisika partikel berenergi tinggi. ALICE diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: apa yang terjadi dengan materi ketika dipanaskan 100 ribu kali lebih panas daripada inti matahari? mengapa berat proton dan neurton 100 kali lebih berat dari partikel penyusunnya (kuark)? dan bisakah kuark sebagai penyusun proton dan neutron dibebaskan?

Cara peneliti di ALICE mengetahui jenis partikel yang tercipta setelah tabrakan adalah dengan menggunakan beberapa detektor di seputaran lokasi tabrakan. ALICE setidaknya menggunakan lebih dari 5 jenis detektor, yang masing-masing detektor memiliki kemampuan dan tujuan deteksi yang berbeda. Tugas detektor adalah merekam jejak lintasan partikel yang tercipta. Seperti kamera digital, detektor terhubung oleh sistem komputer berkinerja tinggi dan basis data untuk mengambil dan menyimpan jejak lintasan-lintasan partikel hasil tabrakan. Pada akhirnya, data hasil tabrakan yang tersimpan pada basis data dianalisis menggunakan sistem komputer berkinerja tinggi oleh fisikawan eksperimen untuk diketahui jenis partikel dan sifat-sifatnya.

Salah satu detektor yang pertama kali merekam jejak lintasan disebut dengan Inner Tracking System (ITS). ITS bertujuan untuk mendeteksi jenis kuark berat. Kuark berat dengan nama yang menarik seperti "charm" (menawan) dan "beauty" (indah). Untuk tujuan itu, ITS menggunakan jenis sensor partikel yang disebut Silicon Pixel Detector (SPD).

SPD merupakan sensor berukuran nano yang dimampatkan pada sebuah kepingan chip silikon sehingga disebut sebagai pixel chip. Sebuah pixel chip dibuat dengan ukuran lebar 15 mm, panjang 30 mm, dan ketebalan hingga 0.05 mm. Guna mencapai akurasi pengukuran tingkat tinggi maka detektor ITS mensyaratkan produksi pixel chip yang sesuai dengan spesifikasi teknik yang telah ditetapkan. Adanya variasi ukuran saat proses produksi pixel chip harus ditekan serendah mungkin. Namun sebagaimana yang lazimnya terjadi pada proses produksi skala besar, terdapat penyimpangan ukuran-ukuran fisik pixel chip, lebih besar atau pun lebih kecil dari ukuran yang diharapkan. Untuk pelaksanaan eksperimen, ITS memerlukan pixel chip dalam jumlah yang besar yaitu sekitar 50 ribu buah. Pemeriksaan ukuran dan bentuk secara manual dengan bantuan mikroskop merupakan hal yang sudah tentu melelahkan dan sulit mendapatkan ketelitian dan ketepatan tingkat tinggi. Oleh karena itu, pemeriksaan otomatis dengan menerapkan metode "computer vision" (penglihatan komputer) dan "image processing" (pengolahan citra) dapat membantu penjaminan mutu selama produksinya.

Sistem otomatisasi penjamin mutu pixel chip merupakan usulan murni dari Esa Prakasa dan Edi Kurniawan dari Pusat Penelitian Informatika (P2I) LIPI. Uniknya, ide sistem otomatisasi penjamin mutu pixel chip muncul berdasarkan pengalaman Esa Prakasa dalam bidang rekayasa biomedik selama beberapa tahun terakhir ini. Esa Prakasa sebelumnya pernah terlibat dalam pengembangan sistem pemeringkatan penyakit kulit psorasis dengan menggunakan kombinasi pengolahan citra 2 dan 3-dimensi di Malaysia. Demikian juga dengan Edi Kurniawan, riset terkait dengan pengolahan citra digital sudah pernah digelutinya beberapa tahun yang lampau di Australia. Dengan kontribusi ini, Esa Prakasa dan Edi Kurniawan secara langsung telah membantu dalam penyediaan proses produksi detektor ITS yang cepat dan akurat.

Big Data

Setelah detektor seperti ITS mengindra jejak lintasan partikel. Hasil indraan diubah menjadi variasi arus / tegangan listrik untuk kemudian diproses dan disimpan oleh sistem komputer. Ukuran data hasil detektor untuk satu tabrakan perdetiknya memiliki orde yang besar, yaitu lebih kurang sebesar data satu keping DVD (setiap detik !). Hal ini ditambah rumit dengan jumlah tabrakan yang juga sangat besar setiap detik. Sehingga, data harus cepat diproses dan disimpan agar tidak ada hasil tabrakan yang tidak terekam. Persoalan muncul yaitu bagaimana memproses dan menyimpan data dengan ukuran yang besar dalam batasan waktu yang singkat. Persoalan ini dalam dunia ilmu dan teknik komputer disebut dengan "Big Data". Sedangkan, pemrosesan dalam batasan waktu yang singkat disebut dengan sistem waktu nyata.

Para peneliti dan perekayasa komputer di ALICE merancang sebuah sistem yang disebut dengan DAQ (Data Acquisition) untuk memroses dan menyimpan data hasil tabrakan ke dalam sebuah "server" basis data dalam waktu yang singkat. Dalam DAQ data hasil tabrakan direkonstruksi dan dimampatkan sehingga data yang tersimpan berukuran lebih kecil daripada data mentah hasil penangkapan detektor. Rekonstruksi lintasan partikel adalah pekerjaan untuk membentuk lintasan partikel dalam ruang (3 dimensi) dan waktu berdasarkan hasil bacaan detektor yang umumnya bersifat 2 dimensi.

Rekonstruksi lintasan partikel harus dilakukan secara cepat, dalam orde seperseribu (10-3) detik. Dengan syarat ini, rekonstruksi dapat dilakukan hanya dengan melakukan penerapan algoritma tertentu berbasis komputasi berkinerja tinggi (high performance computing). Rifki Sadikin yang memiliki pengalaman dengan sistem komputer berkinerja tinggi serta pemrosesan paralel, serta Suharyo Sumowidagdo yang paham akan aspek fisika rekonstruksi lintasan partikel bergabung dengan grup kerja rekonstruksi di ALICE. Meskipun masih dalam tahap awal, keterlibatan LIPI pada grup kerja ini dapat berkontribusi pada optimisasi dan paralelisasi kode rekonstruksi sehingga memenuhi spesifikasi kecepatan komputasi rekonstruksi lintasan partikel.

Lebih jauh lagi, beberapa pertanyaan teknis yang berkaitan dengan DAQ di ALICE seperti: berapa besar ruang data yang dibutuhkan untuk menyimpan hasil tabrakan? Berapa kecepatan dan ukuran penyangga yang harus disediakan oleh jaringan antara detektor dan sistem basis data sehingga tidak terjadi lalu lintas data yang macet? Berapa waktu yang dibutuhkan dari kejadian tabrakan sampai dengan hasil tabrakan tersimpan di basis data. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab apabila tersedia model dan simulasi jaringan komputer sebagai representasi DAQ. Rifki Sadikin, Nova Hadi Lestriandoko dan Taufiq Wirahman berkolaborasi dengan peneliti komputer di ALICE CERN untuk mengembangkan model dan simulasi ini. Diharapkan dengan ini DAQ yang dibangun memiliki kinerja optimal dengan biaya operasional serendah mungkin.

Ketika data hasil tabrakan dari detektor telah tersimpan dalam sistem penyimpanan, fisikawan dapat melakukan analisis pada data hasil tabrakan untuk mengetahui jenis dan sifat partikel yang tercipta. Analisis ini juga memerlukan komputer dengan kemampuan komputasi dan penyimpanan yang sangat besar. Sehingga tidak mungkin dilakukan pada sebuah komputer atau beberapa klaster komputer sekalipun karena akan akan memakan waktu komputasi yang sangat lama. Sebagai solusinya peneliti dan perekayasa di ALICE membuat sistem komputer terdistribusi dengan lingkup global yang disebut ALICE Grid. Sebagai salah satu bentuk kontribusi, LIPI telah secara fisik tergabung dengan ALICE grid bersama puluhan negara di dunia melalui fasilitas klaster komputer LIPI di Cibinong dan Bandung. Terhubungnya klaster komputer di Cibinong dan Bandung tidak lepas dari kerja keras Taufiq Wirahman dan beberapa peneliti grid computing di Pusat Penelitian Informatika LIPI.

Seluruh sistem data akuisisi dari detektor ALICE ke sistem basis data melalui DAQ, serta analisis fisika data tersebut, semuanya membentuk himpunan perangkat lunak yang sangat komplek dan berskala besar. Hal ini tentu memerlukan praktik rekayasa perangkat lunak yang baik. Untuk itu ALICE membuat kelompok kerja untuk membuat standar rekayasa perangkat lunak, mulai dari bagaimana standar kode, siklus pengembangan, pengujian perangkat lunak, dan kendali versi. Didi Rosiyadi bergabung dalam kelompok kerja ini dengan topik sistem pengujian perangkat lunak.

Itulah beberapa topik-topik penelitian yang tim LIPI berkolaborasi dengan peneliti/perekayasa di ALICE CERN. Seluruh topik diatas berkutat dalam bidang ilmu dan teknik komputer. Seperti pada awal tulisan ini, jelas sekali bahwa percobaan di CERN memiliki efek mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang informatika. Dalam konteks LIPI, dengan kolaborasi ini muncul harapan lain untuk mengukuhkan status LIPI sebagai institusi penelitian kelas dunia, sekaligus sebagai jalan pembuka mendapatkan pengakuan komunitas ilmiah global atas kontribusi peneliti Indonesia.

Ahli Fisika Berhasil Uji Coba Pengiriman Informasi Lewat Sinar


Para ahli fisika berhasil mengirimkan sinar yang berputar sejauh 3km di ibukota Austria, Wina, sebagai upaya pertama untuk mengirimkan informasi di ruang terbuka.

Sinar yang berputar itu memungkinkan komunikasi yang cepat karena sinar dengan jumlah putaran yang berbeda -yang memungkinkan pemecahan kode yang berbeda.

Laporan di terbitan New Journal of Physic menyebutkan uji coba teknik pengiriman informasi itu dilakukan dengan mengirim gambar tiga warga Austria yang terkenal.

Gambar hitam putih yang dkirimkan itu adalah foto dua ahli fisika Austria, Ludwig Boltzmann dan Erwin Schroedinger, serta kompser musik klasik terkenal, Wolfgang Amadeus Mozart.

Ketiga foto dipecah ke dalam piksel dan dikirimkan pada malam hari lewat sinar laser hijau, yang berputar-putar.

Teknologi sinar yang berputar, yang disebut Orbital Angular Momentum atau OAM, pertama kali didemonstrasikan pada tahun 1990-an, menjadi perkembangan terbaru -seperti dilaporkan wartawan sains BBC, Jonathan Webb- yang tergolong cepat.

Tingkat kesalahan pengiriman gambar hanya 1,7 persen. Berbeda dengan gelombang sinar yang terpolarisasi yang terbatas perputarannya, maka sinar OAM berputar seperti pembuka botol.

Gerakan seperti pembuka botol tidak seperti polarisasi dengan kemungkinan dua arah namun bisa dengan berbagai putaran.

Hal itu membuat setiap konfigurasi bisa menjadi saluran sendiri, seperti setiap warna yang berada dalam serat optik.

Di tempat penerimaan, kamera dan program komputer bisa mengenali polanya dan menyusun kembali gambar ketiga tokoh Austria itu dengan tingkat kesalahan hanya 1,7 persen.

Para peneliti berharap hasil ini, walau bersifat preliminari, akan membantu pengembangan teknologi OAM untuk aplikasi komunikasi antar Bumi dengan satelit.

Petir dari Lubang Hitam Melanggar Hukum Fisika


Menurut hukum fisika, kecepatan cahaya merupakan batas fundamental yang tidak bisa dilanggar, artinya tidak ada yang melebihi kecepatan tersebut.

Itulah yang menyebabkan para astronom bingung ketika mereka melihat kilatan kuat energi meledak keluar dari jantung lubang hitam supermasif di pusat galaksi IC 310 (dalam konstelasi Perseus) yang berjarak 260 juta tahun cahaya dari Bumi, seperti dilaporkan Daily Mail, baru-baru ini.

Dari pengukuran 'petir' sinar gamma ini menunjukkan cahaya itu keluar dari cakrawala peristiwa, dimana event horizon ini merupakan batas di mana tidak ada apapun yang bisa melarikan diri dari gravitasilubang hitam, pada tingkat yang tampaknya lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Sementara sinar gamma muncul untuk menyeberangi cakrawala peristiwa hanya dalam beberapa menit, para ilmuwan memperkirakan seharusnya cahaya ini memakan waktu 25 menit untuk melewati jarak ini.

Ini menunjukkan sinar gamma melaju lebih cepat dari kecepatan cahaya, atau sesuatu yang lain sedang terjadi.

Rontgen, Penerima Nobel Fisika Pertama yang Ramah dan Pendiam


Wilhelm Conrad Rontgen lahir pada tanggal 27 Maret 1845, di Lennep Jerman. Rontgen adalah anak tunggal dari seorang pengusaha dan pedagang pakaian. Ibunya bernama Charlotte Constanze Frowein dari Amsterdam, seorang anggota keluarga Lennep yang telah lama bermukim di Amsterdam.

Saat berusia tiga tahun, keluarga R�ntgen pindah ke Apeldoorn di Belanda. Di tempat itu, R�ntgen masuk Institute of Martinus Herman van Doorn, sebuah sekolah dasar berasrama. Di sekolahnya, R�ntgen sama sekali tidak menunjukkan minat khusus apa-apa. Namun demikian, dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap alam dan sangat gemar bertualang di negara-negara terbuka dan memiliki hutan-hutan yang luas. Dia memiliki keistimewaan berupa ketangkasan dalam melakukan penemuan-penemuan mekanis, sebuah karakteristik yang tetap melekat pada dirinya hingga akhir hidupnya. Pada tahun 1862 dia masuk sebuah sekolah teknik di Utrecht, tempat di mana dia secara tidak adil dikeluarkan dari sekolah itu karena dituduh membuat karikatur salah seorang guru di sekolah tersebut, yang pada kenyataannya karikatur tersebut dibuat oleh siswa yang lain.

R�ntgen kemudian masuk di University of Utrecht pada tahun 1865 untuk mempelajari fisika. Karena tidak memenuhi persyaratan yang diharuskan sebagai seorang mahasiswa reguler, dan mendengar kabar bahwa R�ntgen berhak masuk di politeknik di Zurich karena telah lulus ujian masuk, dia melewatkan kesempatan di University of Utrecht dan mulai belajar di politeknik Zurich sebagai seorang mahasiswa teknik mekanik. Dia mengikuti kuliah yang dibawakan oleh Clausius dan bekerja di laboratorium Kundt. Baik Kundt maupun Clausius memberi pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan R�ntgen selanjutnya. Pada tahun 1896 R�ntgen meraih gelar Ph.D di University of Zurich, dan diminta menjadi asisten Kundt. Bersama Kundt, R�ntgen kemudian pindah ke Wurzbur pada tahun yang sama, dan tiga tahun berikutnya pindah ke Strasbourg.

Pada tahun 1874 R�ntgen memiliki kualifikasi sebagai seorang dosen di Strasbourg University dan pada tahun 1875 diangkat menjadi profesor di Academy of Agriculture di Hohenheim di Wurttemberg. Pada tahun 1876 R�ntgen kembali ke Strasbourg sebagai seorang Profesor Fisika. Namun, tiga tahun kemudian dia menerima permintaan untuk menjadi ketua Fisika di University of Giessen.

Setelah menolak permintaan yang berkali-kali untuk mengisi posisi ketua fisika di Universities of Jena (1886) dan Utrecht (1888), R�ntgen akhirnya menerima permintaan menjadi ketua fisika di University of Wurzburg (1888). Di University of Wurzburg, R�ntgen menggantikan Kohlrausch dan banyak bertemu dengan sejumlah kolega-koleganya, di antaranya Helmholtz dan Lorentz. Pada tahun 1899 dia kembali menolak sebuah tawaran untuk menjadi Ketua Fisika di University of Leipzig, tetapi pada tahun 1900 dia menerima tawaran untuk posisi yang sama di University of Munich, atas permintaan khusus dari pemerintah Bavarian, dan menjadi pengganti E. Lommel. Di tempat inilah, University of Munich, R�ntgen menghabiskan sisa usianya, walaupun dia masih ditawari, tetapi selalu menolak, untuk menjadi presiden Physikalisch-Technische Reichsanstalt di Berlin dan Ketua Fisika di Academy Berlin.

Hasil kerja R�ntgen yang pertama yang dipublikasikan pada tahun 1870, berkaitan dengan panas spesifik gas, yang kemudian diikuti dengan sejumlah makalah tentang konduktivitas termal kristal beberapa tahun berikutnya. Di antara berbagai masalah yang ditelitinya antara lain adalah karakteristik listrik dari kuarsa, pengaruh tekanan terhadap terhadap indeks bias berbagai fluida, modifikasi bidang polarisasi cahaya akibat pengaruh elektromagnetik, variasi fungsi temperatur dan kompresibilitas air dan fluida lainnya, fenomena yang menyertai penyebaran tetesan minyak pada air, dan sebagainya.

Namun demikian, nama R�ntgen akhirnya dikaitkan dengan penemuan sinar yang dia sebut dengan nama sinar-X. Ketika itu, pada tahun 1895, dia sedang mempelajari fenomena yang menyertai pembawa arus listrik melalui sebuah gas bertemperatur sangat rendah. Beberapa fisikawan sebelumnya yang telah mempelajari gejala ini antara lain adalah J. Plucker (1801-1868), J. W. Wittorf (1824-1914), C.F. Varley (1828-1883), E. Goldstein (1850-1931), Sir William Crookes (1832-1919), H. Hertz (1857-1894) dan Ph. Von Lenard (1862-1947). Berdasarkan hasil kerja para fisikawan ini, sifat-sifat sinar katode � nama yang diberikan oleh Goldstein untuk arus listrik dalam gas murni yang dihasilkan oleh tegangan listrik yang sangat tinggi dengan menggunakan koil induksi Ruhmkorff� telah diketahui dengan sangat baik. Namun demikian, hasil kerja R�ntgen tentang sinar katode telah mengantarkannya menemukan sebuah jenis sinar yang baru.

Pada sore hari tanggal 8 November 1895, R�ntgen menemukan bahwa jika tabung lucutan listrik ditutupi dengan sebuah karton hitam yang tebal sehingga menghalangi cahaya untuk masuk, kemudian ditempatkan dalam sebuah ruang yang gelap, sebuah pelat kertas yang pada salah satu sisinya ditutupi dengan barium platina sianida kemudian diletakkan pada jalur berkas sinar yang disebutnya sinar-X itu, maka pelat kertas berlapis barium platina sianida itu akan berpendar meskipun diletakkan sejauh sekitar 2 meter dari tabung lucutan listrik. Pada eksperimen selanjutnya, R�ntgen menemukan bahwa benda-benda dengan ketebalan yang bervariasi yang ditempatkan di lintasan berkas akan menunjukkan bahwa sinar-X memiliki daya tembus yang berbeda-beda terhadap ketebalan bahan-bahan tersebut, apabila hasilnya di rekam pada sebuah pelat fotografi. Ketika R�ntgen meminta istrinya menempatkan tangannya di lintasan jalur sinar tersebut ke pelat fotografi, setelah beberapa kali melakukan perbaikan plat, dia melihat gambar tangan istrinya yang membentuk bayangan yang dibentuk oleh tulang tangannya serta sebuah cincin yang dikenakan oleh istrinya, dikelilingi oleh bayangan penumbra daging tangannya, yang lebih mudah ditembus oleh sinar tersebut sehingga menghasilkan bayangan yang lebih redup. Ini merupakan hasil foto R�ntgen pertama yang dihasilkan. Pada eksperimen berikutnya, R�ntgen menunjukkan bahwa sinar baru tersebut dihasilkan oleh tumbukan sinar katode pada sebuah material. Karena sifat alamiah sinar tersebut belum diketahui pada saat itu, R�ntgen menamakannya dengan sinar-X. Pada waktu berikutnya, Max von Laue dan muridnya menunjukkan bahwa sinar tersebut memiliki sifat elektromagnetik yang sama dengan cahaya, selain bahwa sinar tersebut memiliki frekuensi vibrasi yang lebih tinggi.

Berbagai penghargaan pun tercurah kepada R�ntgen atas penemuan ini. pada beberapa kota, nama-nama jalan diubah menjadi namanya, dan sejumlah daftar lengkap penghargaan, medali, doktor kehormatan, anggota kehormatan berbagai lembaga sosial di Jerman, termasuk di luar Jerman, serta berbagai penghargaan lainnya diberikan kepadanya. Terlepas dari semua ini, R�ntgen tetaplah seorang pria yang menunjukkan kesederhanaan dan seseorang yang pendiam. Sepanjang hidupnya, R�ntgen tetap mempertahankan kecintaannya terhadap alam dan kegiatan-kegiatan di luar ruang yang disenanginya. Banyak waktu liburnya dihabiskan rumah musim panasnya di Weilheim, yang terletak di kaki gunung Bavarian, pegunungan Alpen dimana dia menghibur teman-temannya dan menjalani banyak petualangan di pegunungan tersebut. R�ntgen adalah seorang penjelajah gunung yang hebat dan telah berkali-kali mengalami situasi yang berbahaya dalam petualangannya.

Karena sifat ramah dan kesopanannya yang alami, R�ntgen selalu memahami pandangan-pandangan dan kesulitan orang lain. Dia selalu merasa malu untuk memiliki seorang asisten, dan lebih menyukai bekerja sendiri. Banyak dari alat-alat yang digunakannya selalu dibuatnya sendiri dengan cerdik dengan keterampilan seorang eksperimenter.

R�ntgen menikah dengan Anna Bertha Ludwig dari Zurich, yang ditemuinya pertama kali di cafe yang dijalankan oleh ayahnya. Anna adalah keponakan dari sastrawan Otto Ludwig. Mereka menikah pada tahun 1872 di Apeldoorn, Belanda. Mereka tidak dikaruniai anak, tetapi pada tahun 1887 mengadopsi Josephine Bertha Ludwig pada saat berusia 6 tahun, puteri dari saudara laki-laki tunggal Anna, istrinya. Lima tahun setelah Kematian istrinya, Rotgen meninggal dunia pada tanggal 10 Februari 1923, karena menderita karsinoma usus.

Sumber:

Nobel Lectures, Physics 1901-1921, Elsevier Publishing Company, Amsterdam, 1967.
Catatan : Otobiografi/biografi ini ditulis pertama kali saat anugerah nobel akan diberikan kepada R�ntgen dan dipublikasikan pertama kali dalam seri buku Les Prix Nobel. Tulisan tersebut kemudian diedit dan dipublikasikan kembali di Nobel Lectures.